https://directcourseonline.com/equity-equality-inclusion/

17 April 2022

Oleh Iin Indriyati

Lihatlah gambar di atas! Menurut Anda, mana yang menggambarkan pendidikan yang memerdekakan?

Pada hari Jumat, 11 Februari 2022, telah sosialisasikan Kurikulum Merdeka sebagai upaya memulihkan pembelajaran dari krisis yang sudah lama dialami. Learning loss yang diakibatkan oleh pandemi berkepanjangan menjadi semakin besar jika dibiarkan. Kurikulum Merdeka diharapkan dapat memulihkan kondisi pendidikan Indonesia dan bisa meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Dibandingkan dengan negara lain, Indonesia masih berjuang untuk mencapai kualitas pendidikan yang lebih baik.

Kurikulum merdeka mengajak kita sebagai pendidik kembali ke filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu pendidikan yang memerdekakan dan pendidikan berhamba pada anak. Kita diingatkan kembali bahwa anak adalah subyek pendidikan. Student center kembali didengungkan. Dua hal ini bukanlah hal baru di dunia pendidikan. Namun, pada pelaksanaannya, belum semua bisa menerapkan dalam kelas.  

Karakteristik dan kebutuhan anak menjadi aspek penting yang harus diperhatikan dalam pendidikan. Semakin majunya wawasan guru-guru Indonesia, diharapkan karakteristik dan kebutuhan anak menjadi panduan dalam merancang pendidikan. Ketika dulu kita diajarkan bahwa gambar pemandangan (pada umumnya) adalah dua gunung dengan jalan di tengah dan tiang listrik atau pohon di sisinya, kemudian ada sawah di kiri kanan jalan, dengan pendidikan yang memerdekakan, gambar pemandangan akan lebih beragam. Anak sebagai subyek akan bebas berkreasi sesuai dengan imajinasinya dan apa yang dilihat, bukan atas ‘instruksi’ dari guru. Guru memberikan bermacam wawasan mengenai pemandangan, kemudian anak menuangkannya. Bukan guru yang mengarahkan akan menggambar ‘apa’ atau ‘seperti apa’ pemandangan itu tapi anak akan bebas menuangkan idenya dari wawasan yang difasilitasi guru.

Zaman berubah. Perubahan itu terjadi sangat cepat dan hal itu di luar kendali kita sebagai guru. 7 habits mengatakan, keadaan di luar kendali sebagai lingkaran kepedulian. Perubahan jaman, covid, teknologi, tidak bisa kita tahan. Perubahan akan terus berlangsung. Bagaimana mengatasi lingkaran kepedulian? Caranya adalah dengan memperluas lingkaran pengaruh yaitu lingkaran kendali kita. Lakukan sesuatu yang ada dalam kendali kita. Perubahan zaman yang terjadi, itu di luar kendali kita, tapi merancang pembelajaran ada dalam kendali kita sebagai guru.

Perubahan yang terjadi dengan cepat menuntut kita untuk bisa beradaptasi. Begitupun dengan pendidikan. Pendidikan berubah karena perubahan zaman. Bagaimana kita menyiapkan anak-anak yang adaptif terhadap perubahan? Penting bagi guru untuk membekali anak-anak dengan keterampilan abad 21 agar mereka mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Kurikulum merdeka membawa kita sebagai guru kepada perubahan mindset. Guru harus terus belajar. Ketika diberikan contoh-contoh rancangan pembelajaran, itu hanyalah inspirasi. Dalam pendidikan yang memerdekakan, kita bebas untuk merancang pembelajaran sesuai dengan kebutuhan anak. Kita bisa menyesuaikan rancangan pembelajaran dengan karakteristik anak dan kebutuhan anak untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tugas guru adalah memfasilitasi anak agar mampu mengembangkan potensinya, bukan membentuk anak menjadi keinginan guru atau karena tuntutan materi. Dengan contoh-contoh inspirasi yang beredar apakah itu dalam bentuk buku, modul ajar, bahan ajar, kita memiliki kewenangan untuk memilah, mengadaptasi, menggunakan sesuai dengan kebutuhan yang berpegang pada anak.

Jangan menumbuhkan jagung menjadi padi. Biarkan jagung tumbuh menjadi jagung dan padi tumbuh menjadi padi. Ungkapan dari Ki Hajar Dewantara ini mengingatkan bahwa anak adalah unik dan tidak bisa disamaratakan. Pendidikan yang berpusat pada anak adalah pendidikan yang dirancang dan dilakukan dengan mengenali anak sebagai subyeknya. Pendidikan yang berhamba pada anak adalah pendidikan yang mengenali karakter dan kebutuhan anak yang dapat mengembangkan potensi anak dan mampu membuat anak beradaptasi dan bertahan dalam kehidupan masyarakat.  Untuk mencapai ini, guru harus terus belajar karena dunia berubah. Zaman tak lagi sama.  

Kembali pada gambar di atas. Manakah pendidikan yang memerdekakan?

Gambar kiri, semua anak mendapat perlakuan yang sama, yaitu mendapatkan kotak sebagai tempat berpijak. Apakah semua anak bisa melihat pertandingan bola?

Gambar tengah, setiap anak mendapat perlakukan yang berbeda. Ada yang mendapat 2 kotak sebagai pijakan, ada yang mendapat 1 kotak, bahkan ada yang tidak. Apakah mereka bisa melihat sepak bola? Apakah ini asosiasi dari pendidikan yang memerdekakan?

Sama belum tentu adil.

Gambar kanan, semua bisa melihat pertandingan sepak bola. Papan penutup sebagai sistem sudah dibongkar. Apakah ini pendidikan yang memerdekakan?

Silakan direnungkan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Pada satu kegiatan, Bapak Zulfikri Anas, PLT Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran mengemukakan 3 syarat mengimplementasikan Kurikulum Merdeka:

  1. Untuk mengenali, menerima, dan mencintai anak apa adanya.
  2. Untuk bersedia berpusat pada anak.
  3. Untuk bersedia selalu belajar dan belajar sepanjang hayat.

Satu ungkapan yang sering didengar dalam dunia pendidikan adalah: ganti menteri ganti kurikulum. Mengacu pada filosofi Ki Hajar Dewantara yang sudah ada bertahun-tahun lalu tentang pendidikan yang memerdekakan, menurut saya, kurikulum bukanlah berpijak pada menteri. Apapun kurikulumnya, anak sebagai subyek harus selalu menjadi acuan dalam menjalankan pendidikan, mengenali, menerima, dan mencintai anak apa adanya adalah hal wajib yang dilakukan seorang guru, menjadikan anak sebagai subyek haruslah menjadi panduan dalam penyelenggaraan pendidikan, dan saya sebagai guru, harus terus belajar karena perubahan zaman terus berlangsung.