Sumber foto: slide presentasi pelatihan; sumber gambar: slide.go

Oleh kontributor peserta Pelatihan Karya KGBN

22 Juli 2021

 

Di era pandemi, sangat penting untuk guru agar membuat murid menjadi lebih betah dengan pembelajaran secara daring, terlebih banyak murid yang tidak bisa untuk sekedar fokus agar bertahan mengikuti pembelajaran hingga akhir. Tak hanya itu, dengan pembelajaran secara online permasalahan murid menjadi bertambah banyak, yang tentunya tidak luput dari perhatian. Guru harus berupaya penuh agar dapat mengatasi hal tersebut. Salah satunya adalah dengan Pelatihan Karya dalam Temu Pendidik yang digagas oleh Kelompok Guru Belajar Nusantara atau yang biasa disebut KGBN.

Dalam Pelatihan Karya yang dilakukan secara online melalui Google Meet pada hari Sabtu, 8 Mei 2021, guru berusaha meningkatkan kemampuan dalam menciptakan pembelajaran yang maksimal bagi murid. Pada sesi pertama berjudul “Design Thinking dalam merancang media pembelajaran merdeka belajar”, Ibu Yetti Evana, S.Pd selaku narasumber mengatakan, “Permasalahan yang terjadi pada murid dapat dituntaskan dengan berupaya empati, memperdalam pemahaman mengenai masalah yang dialami murid, merumuskan ide dan yang terakhir uji coba agar dapat mengetahui umpan balik yang terjadi”. Tentunya dengan kunci tersebut kita dapat mengambil hati murid sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik dan berjalan lancar.

Tak hanya itu, media pun cukup berpengaruh terhadap pencapaian tujuan. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Eva bahwasanya dengan media pasti pembelajaran yang dilaksanakan dapat berjalan secara maksimal. Tidak hanya sekedar poster, video, alat peraga, dan lagu saja. Dengan keadaan seperti sekarang ini, aplikasi berbasis teknologi sangat diperlukan untuk menarik minat murid, seperti halnya Kahoot, Quizizz, Mentimeter, Duolingo, dan aplikasi lainnya yang tak kalah menarik. Ibu Eva menyematkan tiga kunci utama pemanfaatan permainan media pembelajaran, yakni: pengarahan pada murid agar mengetahui langkah-langkah yang harus ditempuhnya dalam pembelajaran, pendampingan atau bimbingan yang dilakukan oleh guru pada murid, kemudian yang terakhir, refleksi sebagai feedback yang didapatkan dari media belajar yang telah diaplikasikan pada murid.

Dibalik media dan perencanaan, inovasi dalam membuat materi pembelajaran dapat mengundang antusias murid. Ibu Ineu Sumarsih, S.Pd. menyampaikan bahwasanya pembelajaran berbasis PAIKEM (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Menyenangkan) ini sangat bisa mendorong murid menjadi lebih aktif dari biasanya dan memahami materi secara baik. Unsur yang diperlukan dalam merumuskan pembelajaran terlebih dahulu berfokus pada kompetensi dasar yang ada, kemudian raut wajah, intonasi, gerak tubuh, bahasa penyampaian, alat peraga, dan assessment yang perlu disiapkan sebelum pembelajaran dilakukan.

Video pembelajaran yang menarik dapat dibuat dengan aplikasi Filmora 9. Ibu Winni Restuliani, S.Pd. mengatakan bahwa ketika guru membuat video pembelajaran, diawali dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, kemudian agar lebih menarik perhatian, tambahkan video lain yang berkaitan dengan materi, dokumentasi yang dapat memperkuat teori, penambahan lagu yang dapat meningkatkan antusiasme murid, dan yang terakhir diselipkan assessment agar dapat mengetahui sejauh mana murid paham akan materi yang dibahas dalam video pembelajaran tersebut. Assessment dapat diisi dengan soal latihan ataupun tugas praktik yang disesuaikan dengan minat serta kebutuhan murid.

Dengan kemajuan zaman yang semakin berkembang tentunya guru harus pula meningkatkan kemampuan dirinya sehingga tidak tertinggal oleh zaman dan dapat menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Guru yang terus mengembangkan kemampuan tersebut tidak akan rugi, karena skill dapat dipakai tidak hanya di bidang pendidikan saja. Bukan hanya itu, dengan kemampuan yang ada, pembelajaran diharapkan akan sangat aktif, menarik, dan meningkatkan antusias murid sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara maksimal dan lebih cepat dari target yang ada.

 

Pelatihan Media Pembelajaran Unik Nan Menarik

Konsentrasi murid kerap kali menjadi permasalahan untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Hal ini disebabkan karena pembawaan metode pembelajaran yang kurang menarik atau bahkan media yang kurang bisa meningkatkan antusiasme murid. Padahal dengan penyajian yang menarik tentu saja dapat menjadikan jam-jam pelajaran yang berlangsung lama terasa sangat singkat.

Menurut Bu Wati Marwati, S.Pd., narasumber hari ke-2, dalam Merancang Pembelajaran yang Bermakna pada Anak Usia Dini, kita dapat memanfaatkan Teknologi. Bu Wati mengatakan bahwa teknologi, bagaikan sebuah kendaraan karena dapat dimanfaatkan sebagai salah satu unsur berjalannya sebuah pembelajaran terlebih di masa pandemi. Teknologi dapat pula menjadi support learning yang menyenangka dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dengan guru yang inovatif dan memiliki empat kompetensi (pedagogik, sosial, profesional, dan kepribadian), tentunya akan dapat memanfaatkan teknologi yang ada sehingga akan didapatkan smart classroom. Untuk menciptakan hal tersebut, dapat digunakan aplikasi yang sudah banyak tersedia, asalkan disesuaikan dengan kondisi ataupun kebutuhan murid sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Bu Wati mengatakan, guru diharapkan lebih terbuka atas kejadian yang sedang dialami oleh murid, dan tentunya memahami berbagai karakteristik murid, juga hal-hal apa yang menjadi tantangan bagi murid di saat ini. Tantangan yang senantiasa terjadi biasanya adalah minat yang terbatas, karakteristik anak yang berbeda, konsentrasi yang cepat memudar, usia dini yang membuatnya semakin eksploratif, dan cenderung penasaran akan segala hal, serta pendampingan yang tidak sepenuhnya berjalan maksimal. Seperti yang biasa ditemui saat ini, orang tua ataupun wali terkadang kurang dapat memahami apa yang sedang dipelajari anak. Pada keadaan tersebut, guru wajib terus mengawasi murid dan menjadikan murid lebih aktif agar tidak terjadi feedback yang hanya satu arah. Terapkan student center (murid menjadi pusatnya), lakukan tanya jawab, dan gunakan metode pembelajaran sesuai karakteristik murid seperti visual, auditori, ataupun kinestetik.

Menurut Ibu Karin Karina, narasumber lainnya, Eksplorasi Buku Bacaan Digital dapat digunakan untuk mengatasi kejenuhan murid terhadap pembelajaran. Bahasa yang kaku dan formal pada buku pelajaran tak pelak membuat murid menjadi lebih tidak fokus untuk memahami bahan ajar sehingga tujuan pemahaman dalam waktu tersebut belum tentu dapat tercapai. Meminimalisir kejenuhan tentunya perlu upaya yang efektif, seperti pembuatan media pembelajaran dengan alat peraga yang menarik perhatian contohnya buku digital dengan ilustrasi di dalamnya. Dengan sajian visual yang mengundang mata memandang, diharapkan murid lebih antusias mengikuti pembelajaran.

Di samping itu, Bu Karin mengemukakan terdapat empat manfaat dari buku bacaan yakni mengasah sosial dan emosi anak, meningkatkan kecerdasan akademik, meningkatkan minat baca juga nalar kritis, dan daya analitis pada murid. Buku PAUD, buku terbitan Balai Bahasa, Let’s read Asia, Literacy cloud, dan buku cerita KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) bisa menjadi jalan keluar untuk mencapai manfaat-manfaat tersebut. Untuk mengoptimalkan penggunaan buku, metode yang diaplikasikan dapat berupa pemaparan referensi terlebih dahulu, kemudian pencarian buku dalam website yang dituju, dan lakukan diskusi berupa pemaparan pendapat dari setiap murid.

Menurut Bu Lutfia, aplikasi live worksheet sangatlah mudah digunakan, juga dapat meringankan pekerjaan guru seperti halnya merekap nilai sehingga bisa dilakukan secara otomatis dan menghasilkan data. Live worksheet dapat menjadi solusi atas kejenuhan murid sehingga bisa menjadi media pembelajaran yang unik nan menarik lainnya, terlebih dalam hal mengerjakan soal. Pilihan dari soal pun dapat diatur sedemikian rupa. Multiple choice, join with arrow atau drag and roll bisa menjadi salah satu opsi dari berbagai penyajian soal yang tentunya menarik mata murid sehingga berjalan menyenangkan alih-alih penyajian soal yang serius, kaku, dan membosankan. Guru tidak perlu merasa repot ataupun kebingungan, dikarenakan terdapat template yang bisa langsung dipilih sehingga tidak perlu mendesain terlebih dahulu.

Aplikasi lain yang bisa digunakan adalah Padlet dan Nearpod. Bu Fitri Amelia, S.Pd. menjelaskan pilihan dari Padlet dan Nearpod sangat bervariasi sehingga dipastikan murid akan berminat saat belajar menggunakan media ini. Menurut Bu Fitri, aplikasi ini terbukti dapat meningkatkan antusiasme murid bahkan guru lainnya.

Temu pendidik kali ini membuka cakrawala para guru, bahwasanya pengetahuan mengenai teknologi sebagai kompetensi dalam menyelenggarakan pembelajaran di kala pandemi masih kurang dimiliki. Oleh karena itu, sangat penting bagi guru untuk terus belajar dan mengeksplorasi aplikasi yang telah tersedia di internet dan memanfaatkan fitur-fitur yang ada di dalamnya. (In)