Sumber foto: Dokumen pribadi

Oleh Iin Indriyati

28 Juni 2021

 

Laju kemajuan teknologi sudah begitu pesat. Siapa yang tidak mengenal ponsel pada masa ini? Anak-anak pun tidak asing dengan benda yang satu ini. Bahkan, kadang disalahgunakan oleh orang dewasa untuk membuat anak ‘diam’. Terkesan bahwa teknologi lebih banyak membawa dampak yang buruk daripada dampak positif. Padahal, seiring dengan satu teknologi diciptakan, dampak baik dan buruk akan menyertai.

Ketika teknologi mulai digunakan di sekolah khususnya sekolah dasar, satu pertanyaan muncul. Sudah perlukah anak-anak usia sekolah dasar memegang gawai? Membendung laju teknologi rasanya tidak mungkin karena hal itu di luar kemampuan kita.

Keadaan itu terjadi sebelum Covid 19 merebak di Indonesia. Setahun lebih berlalu. Covid masih bernaung di Indonesia. Sejak Covid 19 dinyatakan muncul di Indonesia, siswa Belajar Dari Rumah (BDR) diprogramkan beberapa saat kemudian. Teknologi menjadi satu solusi agar siswa tetap belajar. Sebagian besar guru ‘dipaksa’ menguasai teknologi untuk merancang pembelajaran. Siswa ‘terpaksa’ menggunakan gawai untuk belajar. Pertanyaan “Sudah perlukah anak-anak usia sekolah dasar memegang gawai?” bukan lagi menjadi pertanyaan reflektif tetapi menjadi suatu keharusan bagi sekolah beserta siswanya. Namun, pemikiran tentang dampak negatif masih lekat di benak. Bagaimana kita dapat meminimalisir dampak negatif teknologi buat siswa kita?

Penggunaan teknologi dalam pembelajaran ketika siswa di sekolah dan ketika siswa Belajar Dari Rumah tentunya berbeda. Ketika guru menggunakan teknologi untuk mengajar di sekolah dan siswa menggunakan gawai, penyalahgunaan teknologi mungkin bisa diminimalisir karena ada dampingan guru.

Berbeda tentunya ketika siswa menggunakan gawai untuk Belajar Dari Rumah. Ketakutan akan penyalahgunaan sontak muncul kembali. Tidak bisa dipungkiri, penguasaan teknologi bagi siswa merupakan satu keterampilan yang perlu dalam abad 21 untuk mengatasi tantangan saat ini. Namun, tanpa adanya guru atau orang tua yang mendampingi, dapatkah teknologi digunakan dengan baik? Dengan teknologi di genggaman siswa, mereka dengan mudahnya mencari informasi atau mengakses media sosial. Bagaimana mengantisipasi penyebaran hoax? Apa bentuk antisipasi yang bisa dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan teknologi saat Belajar Dari Rumah? 

Di antara banyaknya pertimbangan mengenai penggunaan teknologi, saya tercenung ketika membaca salah satu kalimat dalam modul pelatihan sertifikasi Google Educator. Di sana tertulis:  

“Namun, tidak selalu memungkinkan bagi kami (guru) untuk sepenuhnya melindungi siswa. Apa yang terjadi ketika mereka mendapat masalah? Mengajari siswa cara mengatasi situasi ini adalah sesuatu yang dapat dilakukan setiap guru di kelas mereka.”

Survei Microsoft yang berjudul 'Digital Civility Index (DCI)' menyatakan bahwa warganet Indonesia dinyatakan sebagai warganet paling tidak sopan se-ASEAN. Survei ini diikuti oleh 16.000 responden di 32 negara yang dilakukan mulai April dan Mei 2020. Indonesia berada di urutan ke-29 dari 32 negara dan menjadi negara dengan tingkat kesopanan yang paling rendah di Asia Tenggara. Warganet Indonesia tidak terima dan ‘menyerang’ akun media sosial Microsoft.

Mengapa kita disebut tidak sopan di dunia maya? Bagaimanakah masyarakat Indonesia mengomentari suatu topik di Internet sehingga dikatakan tidak sopan? Apakah survei Microsoft ini membuktikan bahwa literasi digital kita rendah? Atau warganet Indonesia belum mampu untuk terjun ke dunia maya? Lalu bagaimana kita ‘menyiapkan’ siswa ketika teknologi di genggaman mereka?

Berbagai pertanyaan berkecamuk. Saya kembali teringat kata-kata, “Namun tidak selalu memungkinkan bagi kami (guru) untuk sepenuhnya melindungi siswa” dan kalimat, “Mengajari siswa cara mengatasi situasi ini adalah sesuatu yang dapat dilakukan setiap guru di kelas mereka.” Dari situ saya belajar, salah satu yang bisa dilakukan kita sebagai guru adalah dengan membekali siswa bagaimana menggunakan teknologi secara bijak, menyiapkan siswa dalam menghadapi situasi tidak mengenakkan yang mungkin muncul, dan mengajari siswa mandiri dalam mengatasi masalah. Dengan kata lain, penting bagi guru untuk mengedukasi siswa mengenai Literasi Digital agar mereka siap memasuki dunia teknologi.

Literasi digital tidak hanya berbicara mengenai teknologi. Literasi digital juga mencakup bagaimana menggunakan teknologi secara benar. Dalam buku Panduan Literasi Digital untuk Guru Sekolah Dasar yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (2017), pemahaman dan praktik kewargaan teknologi meliputi manajemen waktu, manajemen perundungan dunia maya, manajemen keamanan siber, privasi, berpikir kritis, dan empati digital.

1. Manajemen Waktu. Salah satu kekhawatiran dalam penggunaan teknologi adalah kecanduan akan gawai. Di sini, perlu adanya edukasi bagi anak/siswa mengenai perlunya jadwal penggunaan gawai. Kapan gawai bisa digunakan, kapan tidak boleh. Guru dan orang tua dapat berdiskusi dengan anak mengapa perlu adanya pengaturan jadwal dan apa dampak positif serta negatifnya. Guru dan orang tua dapat memberikan informasi mengenai dampak gawai bagi kesehatan. Guru dan orangtua juga perlu mendorong agar siswa/anak memiliki kegiatan positif lainnya seperti olah raga, kesenian, atau kegiatan lainnya.

2. Mengatasi Perundungan di Dunia Maya. Perundungan yang terjadi tentunya berdampak bagi kesehatan mental dan fisik anak yang menjadi korban. Di dunia maya, media sosial merupakan salah satu media yang memungkinkan terjadinya perundungan. Sosialisasi bahaya perundungan dunia maya melalui media sosial dapat dilakukan oleh sekolah dengan menguatkan siswa bahwa jika perundungan terjadi:

  • Jangan merespon.
  • Jangan balas dendam.
  • Simpan bukti perundungan.
  • Temui dan laporkan kepada guru, orang tua, dan jika diperlukan pihak yang berwenang
  • Laporkan masalah perundungan melalui posel (email)  ke: laporkekerasan@kemdukbud.go.id.

Guru juga dapat menyosialisasikan aturan hukum dan sanksinya bagi anak yang terlibat perundungan dan kekerasan.

3. Manajemen Keamanan Siber. Tips keamanan yang bisa digunakan oleh siswa antara lain:

  • Membuat alamat posel (email) dengan user name menggunakan nama asli.
  • Membuat kata sandi yang sulit ditembus.
  • Tidak memberitahukan kata sandi akun posel dan jejaring sosial ke orang lain kecuali orang tua.
  • Mengunci perangkat digital.
  • Tidak membuka tautan (link) yang tidak jelas.
  • Log out atau sign out jika sudah selesai menggunakan akun ponsel, jejaring sosial, dan akun lainnya.
  • Meminta orang dewasa di rumah untuk mendampingi anak ketika berinternet.

Orang dewasa (guru/orang tua) dapat melakukan hal-hal berikut sebagai manajemen keamanan siber:

  • Mengatur mesin pencari dengan filter agar anak tidak bisa mengakses informasi yang dilarang.
  • Melengkapi perangkat dengan antivirus atau firewall.
  • Memutakhirkan antivirus agar memproteksi data dan perangkat dari virus yang merusak atau menghilangkan data.
  • Mendampingi anak ketika anak berinternet.

4. Manajemen Privasi. Langkah-langkah yang bisa dilakukan anak untuk menjaga privasi di internet adalah:

  • Tidak memberitahukan data diri dan keluarga atau alamat di jejaring sosial.
  • Tidak memasang foto atau video tanpa sepengetahuan atau izin orang tua.
  • Tidak menerima pertemanan dari orang yang tidak dikenal.
  • Tidak memberitahukan lokasi di jejaring sosial.
  • Berteman dengan orang tua dan guru di jejaring sosial. 

5. Berpikir Kritis. Berpikir kritis diperlukan agar siswa mampu memilih, memilah, menganalisis, dan mengevaluasi informasi yang diperoleh. Membentuk pola berpikir kritis perlu proses dan latihan yang memerlukan waktu lama sehingga bisa mulai ditanamkan sejak dini. Contoh mengolah berpikir kritis adalah perlunya guru atau orang tua mengajukan pertanyaan. Pertanyaan bisa dimulai dengan 5W-1H (What, Where, When, Who, Why, How) atau ADIKSIMBA (Apa, Di mana, Kapan, Siapa, Mengapa, Bagaimana). Guru atau orang tua juga dapat menyampaikan kepada siswa agar tidak terjebak berita bohong dan ujaran kebencian.

  • Hati-hati dengan judul provokatif.
  • Cermati alamat situs atau laman.
  • Periksa fakta.
  • Cek keaslian foto.
  • Tanyakan kepada guru atau orang tua untuk memverifikasi informasi.
  • Jangan menyebarkan pesan, foto, dan video yang menyakiti orang lain.

6. Empati Digital. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa empati anak:

  • Dorong anak untuk bermain dan melakukan aktivitas bersama teman-temannya. Dalam masa pandemi, hal ini harus dilakukan secara bijak.
  • Ajarkan anak untuk tidak pamer di media sosial.
  • Ajarkan anak untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan.
  • Ajarkan anak untuk tetap bergaul di dunia maya (masih dalam batasan dan norma-norma yang diterima oleh masyarakat).
  • Ajarkan anak untuk berbuat baik di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja.
  • Tidak membuat viral pesan, gambar, dan video perundungan di akun media sosial.
  • Ajarkan anak tentang adab dan etika dalam berteman dan bermain.
  • Guru dapat mengembangkan program yang meningkatkan rasa empati dengan bermain peran, berderma, dan kegiatan lainnya.

Semua hal terkait pemahaman dan praktik kewargaan teknologi di atas dapat diintegrasikan dalam pembelajaran. Mari kita bekali siswa-siswi agar bijak berteknologi. *** (In)

 

Daftar Pustaka: