Sumber foto: dokumen pribadi

 

Oleh: Wati Marwati, S.Pd.

Peran seorang guru bukan hanya menanamkan skill dan wawasan saja kepada anak didik. Anak-anakpun memerlukan penguatan sikap positif agar ia dapat berperan dalam lingkungan. Pada tahap usia 0-7 tahun anak sedang membangun kehendak untuk mulai bereksplorasi dan memahami segala hal yang ada di lingkungan melalui penerapan inderanya. Selama proses ini, anak membangun standar perilakunya dengan cara meniru perilaku orang-orang yang ada di sekelilingnya. Oleh karena itu, peran orang tua dan guru adalah menjadi model baik untuk ditiru oleh anak dan menghadirkan lingkungan yang positif baginya.

Mengingat betapa pentingnya hal tersebut, saya sebagai guru merasa bahwa anak-anak sejak dini harus dikenalkan tentang bagaimana ia berperilaku positif dalam lingkungannya termasuk tentang bagaimana cara menjaga lingkungan, salah satunya yaitu menjaga lingkungan laut agar tidak tercemar. Dari tujuan yang ingin dicapai ini,  melalui kegiatan kelas yang saya rancang, saya mengolah wawasan anak-anak tentang penyebab pencemaran laut, apa dampaknya untuk makhluk hidup, dan bagaimana cara menjaga lingkungan laut agar tidak tercemar. Selain memberikan wawasan, saya pun menanamkan skill kepada anak-anak tentang bagaimana cara mengurangi pencemaran laut tersebut. Untuk menanamkan sikap positifnya, saya menggali dari anak-anak tentang apa kontribusi yang dapat mereka berikan terhadap lingkungan sehingga lingkunganpun memberikan banyak manfaat untuk semua makhluk hidup. Semua rancangan kegiatan pembelajaran ini, sepenuhnya melibatkan anak, di mana anak-anak akan diajak untuk melakukan “proses baca” melalui eksplorasi langsung, wawancara, mencari tahu melalui buku, dan berdramatisasi. Setelah itu, anak-anak melakukan “proses tulis” dengan diawali membuat sebuah rancangan lalu memvisualisasikan hasil rancangannya, menguji coba, mengevaluasi, dan membuat rancang ulang, lalu ditutup dengan proses refleksi.

Salah satu tantangan yang saya rasakan untuk melakukan semua kegiatan tersebut adalah pemahaman anak-anak. Saat ini, pemahaman anak-anak tentang peduli lingkungan baru sebatas membuang sampah pada tempatnya atau menanam dan menyiram tanaman. Hal itu membuat saya merasa bahwa anak-anak memerlukan wawasan tentang apa itu pencemaran laut, apa penyebabnya, apa dampaknya, dan bagaimana cara menanggulanginya. Mengingat karakteristik dan minat anak yang bervariasi, maka di kelas, saya mengajak anak-anak untuk peduli lingkungan khususnya laut melalui kegiatan tematik “Pip si Bajak Laut”. Di tema ini anak-anak diajak untuk mencari tahu terlebih dahulu tentang apa itu bajak laut dan hal-hal yang berkaitan dengan bajak laut salah satunya adalah laut. Anak-anak mencari tahu tentang kondisi laut Indonesia saat ini melalui film maupun buku-buku. Lalu, mereka berdiskusi dengan temannya dan mempresentasikan hasil diskusinya. Dari hasil pengamatan dan diskusi yang anak-anak lakukan, mereka mengetahui bahwa kondisi laut Indonesia saat ini sudah banyak tercemar oleh banyaknya sampah plastik. Selain itu, anak–anak juga diolah kepekaannya dengan mengajak mereka berdramatisasi menjadi binatang laut yang anggota tubuhnya terlilit sampah plastik sedangkan guru berperan menjadi orang yang mencemari lautan dengan membuang sampah plastik ke laut.

Selama kegiatan ini berlangsung, beberapa anak berkomentar seperti, “Bu Guru gak bisa gerak badannya, Bu Guru tangan aku gak bisa digerakkan.” Saya lalu mengajak anak merefleksikan diri melalui pertanyaan dan meminta mereka membayangkan jika hal itu terjadi pada binatang laut. Pertanyaan yang saya berikan antara lain: “Bagaimana jika kamu menjadi binatang laut yang terkena sampah plastik? Apa yang dirasakan para binatang laut? Apa yang dilakukan binatang laut untuk melepaskan diri dari sampah plastik? Apa yang akan kalian lakukan untuk menolong para binatang laut tersebut?” Refleksi untuk menggali kemampuan berpikir anak dan mengolah kemampuan empati anak juga dilakukan dengan menggambarkan pengalaman berdramatisasi “Jika aku menjadi binatang laut yang terkena sampah plastik.”

Setelah anak-anak mendapatkan wawasan tentang pencemaran laut, selanjutnya, anak-anak diajak mencari tahu tentang penyebab banyaknya sampah di laut, apa dampaknya, dan bagaimana cara mengatasinya. Salah satu cara mengatasi banyaknya sampah adalah merancang alat untuk membersihkan sampah-sampah di laut. “Proses baca” kembali dilakukan diawali dengan mengajak anak-anak mencari tahu berbagai macam alat kebersihan beserta fungsinya. Hal ini dilakukan melalui buku, menonton film, dan mewawancara petugas kebersihan sekolah, kemudian mengeksplorasi alat-alat kebersihannya. Setelah “proses baca” dilakukan, anak-anak terlebih dahulu membuat rancangan alat membersihkan sampah di laut. Dari wawasan yang sudah mereka dapat, lalu diperkaya dengan kemampuan imajinasi, anakpun menggambarkan alat permbersih sampah rancangannya.

Setelah gambar rancangan alat pembersih sampah di laut selesai, anak-anak diajak untuk memvisualisasikan gambar rancangannya menggunakan media permainan konstruktif seperti lego/gigo/balok. Anak-anak memilih media apa yang akan digunakan. Kemudian, anak-anak membuat alat pembersih sampah sesuai dengan gambar rancangannya. Sesudah itu, anak-anak menguji coba alatnya tersebut di sebuah tempat yang diasosiasikan sebagai laut yang penuh dengan sampah (yaitu wadah besar yang diisi air dan banyak sampah plastik dan miniatur binatang laut di dalamnya). Selama proses uji coba ini, terjadi pertukaran ide antar anak secara tidak langsung. Satu sama lain saling melihat cara kerja alat kebersihan masing-masing. Merekapun menjadi terinspirasi, alat kebersihan seperti apa yang dapat berhasil membersihkan sampah.

Refleksi dan evaluasi dilakukan setelah kegiatan uji coba. Selama proses ini, saya memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada anak misalnya, “Bagaimana jika alat kebersihan kalian saat sedang dipergunakan tiba-tiba rusak dan akhirnya tenggelam di laut? Alat kebersihan seperti apa yang dapat mengambil sampah-sampah sampai ke dasar laut? Jika kalian diberikan kesempatan kedua, apa yang akan kalian lakukan, apakah akan membuat ulang alat kebersihannya atau menambahkan dengan media lain? Bagaimana perasaan kalian jika alat kebersihan yang kalian buat berhasil membersihkan sampah di laut?” Dari proses refleksi dan evaluasi yang dilakukan, anak-anak mengetahui apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Mereka melakukan rancang ulang alat kebersihannya dan kembali melakukan uji coba hingga berhasil.

Dari kegiatan tersebut, anak-anak menjadi lebih memahami tentang bagaimana cara menjaga lingkungan laut. Anak-anak menjadi lebih peduli dengan mengurangi penggunaan bahan plastik dalam kegiatan sehari-hari, misalnya dengan membawa bekal makanan ke sekolah menggunakan tempat makan sendiri dan meminta orang tuanya untuk tidak menggunakan tas plastik saat berbelanja.

Strategi dan metode pembelajaran yang mengajak anak untuk ‘membaca’ lingkungan yang dikemas melalui kegiatan tematik terintegrasi, menarik, dan bermakna, dapat menambah wawasan dan kepedulian anak terhadap lingkungan laut. “Proses baca” yang dilakukan memerlukan banyak media pendukung agar wawasan yang didapat anak bisa lebih luas. Kerja sama dengan orang tuapun perlu dilakukan agar apa yang anak-anak peroleh di sekolah dapat berkesinambungan di rumah.

 

Catatan:

Proses baca adalah proses membuka wawasan. Proses tulis adalah proses menuangkan ide. ***

 

Wati Marwati, S.Pd. Pendidik di TK GagasCeria, Bandung.