Oleh: Rahmat Suprihat, S.Pd.Gr

Guru SMP Negeri 55 Kota Bandung - Aktivis Lingkungan, Sosial dan Pendidikan

 

Tahun pelajaran baru merupakan hari yang dapat memberikan ruang kegembiraan bagi setiap peserta didik baru. Pada hari pertama, saat peserta didik baru hadir di sekolah merupakan hari yang sangat dinikmati dengan kegembiraan. Sebagai peserta didik baru, anak sekolah mendapatkan sebuah lingkungan baru yang akan memiliki kesan tersendiri.

Sudah hampir dua tahun pelajaran baru ruang-ruang kegembiraan itu nyaris tidak terdengar gegap gempita dari setiap sudut lapangan sekolah. Yang ada hanya menyisakan sebuah fatamorgana dari cahaya matahari. Tidak nampak keriuhan dari anak-anak yang merasakan bahagia.  Hadirnya pandemi Virus COVID-19 sejak Maret 2020 telah menyisakan ruang-ruang perubahan di semua sektor. Dampak hadirnya pandemi ini telah memukul sektor ekonomi, seni dan budaya, sosial, dan sektor lainnya.

Salah satu sektor yang tidak terlepas dari dampak pandemi yaitu sektor pendidikan. Salah satu program pendidikan yang dipengaruhi oleh pandemi ini yaitu program pengenalan lingkungan sekolah atau yang biasa disebut Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sebelum pandemi, MPLS menjadi ruang sosialisasi antara peserta didik baru dengan lingkungan barunya. Namun, setelah pandemi, konsep MPLS pun diubah dengan menggunakan konsep daring (dalam jaringan). Memang ini merupakan sebuah tantangan civitas akademika untuk senantiasa mengeksplorasi sebuah konsep MPLS yang tetap menarik walaupun ada di ruang-ruang maya.

Memang tidak dipungkiri manakala konsep MPLS dilaksanakan secara daring, ada sebuah makna yang hilang yaitu makna kegembiraan sebagai siswa baru, punya sekolah baru, punya teman baru, dan memiliki guru-guru baru. Namun, sebuah kondisi nyata tidak bisa di kesampingkan karena jaminan keamanan, kenyamanan, dan kesehatan, serta keselamatan peserta didik baru jauh lebih utama untuk menjadi perhatian bagi pemerintah dan kita semua.

Untuk memberikan kesesuaian antara kegiatan MPLS dengan kondisi kekinian Kemendikbuddikti mengeluarkan Materi dan Panduan Teknis Pelaksanaan Daring MPLS TP 2021-2022 di Tengah Pandemi COVID-19, baik untuk tingkat SD , SMP , SMA dan SMK.

Ada beberapa materi yang disampaikan pada saat kegiatan MPLS adalah :

1. Materi Wawasan Wiyata Mandala

2. Kepramukaan

3. Kesadaran berbangsa dan bernegara

4. Belajar efektif

5. Pendidikan Karakter

6. Tata Krama Siswa

7. Pengenalan Kurikulum Pendidikan

8. Pendidikan Mental

 

Dengan adanya pandemi, sekolah menerapkan pembelajaran di rumah dan memanfaatkan media telekomunikasi berupa alat komunikasi dengan mengusung konsep daring. Di semua fase semestinya stakeholder, kepala sekolah, guru, dan orang tua harus saling menguatkan untuk berkolaborasi mewujudkan pendidikan yang lebih baik di era normal baru sesuai tugas dan fungsinya masing-masing.

Peran pendidik pada MPLS di masa pandemi memfasilitasi pembelajaran jarak jauh secara daring, luring (luar jaringan) maupun kombinasi keduanya sesuai kondisi dan ketersediaan sarana pembelajaran. Hal-hal lain yang perlu dilakukan maupun dipertimbangkan adalah berkordinasi dengan kepala sekolah, me-review materi, menyiapkan penilaian diri guru, dukungan guru, sumber daya penyusun pembelajaran, umpan balik kepada siswa dan penilaian, menyiapkan profil pembelajaran, melihat kebutuhan saat ini, serta dukungan keluarga.

Peran orang tua pada MPLS di masa pandemi adalah menentukan mekanisme komunikasi dengan guru dan tenaga pendidik dalam menetapkan jadwal dan penugasan sesuai kondisi orang tua dan peserta didik. Orang tua bersama guru mengontrol pembelajaran siswa dan berkoordinasi dengan guru mengenai penugasan belajar.

Adapun beberapa alternatif aplikasi daring pada Tahun Pelajaran 2021-2022 yang bisa digunakan antara lain:

1. Video conference

2. Vlog

3. YouTube

4. Facebook

5. Zoom

6. Webex

 

Mekanisme MPLS Tahun Pelajaran 2021-2022 yang dapat dilakukan antara lain:

1. Untuk teknik penilaian dalam asesmen terstruktur harus sesuai dengan jenis kegiatan yang dilakukan antara lain: observasi, partisipasi, unjuk kerja, tes tertulis, tes lisan, atau angket.

2. Penilaian yang digunakan harus mampu mengukur kemampuan peserta didik saat kegiatan daring misalnya berbuat kebaikan di rumah, penilaian proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran dilakukan berupa portofolio yang menggambarkan unjuk kerja peserta didik, dan penilaian sikap dapat menggunakan teknik observasi.

3. Setelah dilakukan penilaian, panitia (guru) memberikan feedback atau umpan balik dan menyampaikan hasil belajar peserta didik.

4. Panitia (guru) juga dapat memberikan penghargaan pada peserta didik dengan proses belajar yang paling baik.

 

Semoga kemauan berubah dan membumikan gerakan inovasi, kreatifitas, dan konsistensi menjadi energi terbesar kita dalam menyikapi setiap pesan-pesan nyata perkembangan zaman.