Sumber Foto: https://strgonelabsprod.blob.core.windows.net/cms/post/belajar-menulis.jpeg

Oleh: Iin Indriyati - SD GagasCeria

Proses Buka Wawasan Sebelum Berkarya

Pernahkah Ibu dan Bapak mengajak murid-murid untuk menggambar sesuatu namun gambar yang dihasilkan tidak sesuai dengan harapan? Atau malah tidak menghasilkan gambar apa-apa? Bisa jadi Ibu dan Bapak pernah mengalami dalam kegiatan membuat karangan, ada murid yang mengatakan, “Aku tidak tahu harus menulis apa.”

Menggambar atau mengarang merupakan salah satu bentuk menuangkan ide. Pada kegiatan menggambar atau mengarang cerita, wawasan yang dimiliki anak menjadi hal yang sangat penting sebelum murid menuangkan idenya. Karya yang dibuat tergantung wawasan yang dimiliki siswa.

Berbicara tentang wawasan, saya beberapa kali melakukan eksperimen. Kali terakhir adalah saat berbagi cerita pada sesama teman kuliah. Saat itu, saya mengangkat topik tentang pentingnya proses buka wawasan dan penuangan ide. Saya sebut kedua hal tersebut sebagai proses ‘baca’ dan ‘tulis’ (dalam tanda petik). Dalam konteks ini, ‘baca-tulis’ yang saya maksudkan bukan baca tulis teknis di mana terjadi proses mengenali bentuk huruf, membunyikannya, mengaitkannya menjadi fonem dan merangkainya menjadi sebuah kata. Tulis yang saya maksud di sini bukan proses menuangkan huruf-huruf yang dirangkai menjadi kata, kalimat, atau paragraf. Proses ‘baca-tulis’ yang saya maksud adalah bagaimana kita sebagai guru mampu menstimulasi murid dalam proses pembelajaran agar murid memiliki wawasan dan mampu menuangkannya dalam proses ‘tulis’. Proses ‘tulis’ bisa dalam berbagai bentuk seperti membuat karangan, menggambar, membuat komik, menulis laporan, bercerita, dan lain sebagainya.

Kembali ke cerita eksperimen saya tentang proses ‘baca-tulis’ pada teman-teman saya. Waktu itu, saya meminta teman-teman untuk menggambar hanok. Hanok adalah rumah tradisional di Korea. Saya beri waktu 3 menit untuk menggambar. Mereka tidak boleh mencari informasi di internet atau bertanya pada orang lain. Pada awal menggambar, ungkapan yang muncul antara lain:

“Hanok itu apa?”

“Boleh searching, nggak?”

“Aku nggak tahu mau gambar apa?”

“Aku belum gambar apa-apa.”

Saat itu saya hanya berkata bahwa gambarkan saja setahu yang teman-teman tahu. Setelah waktu berakhir, saya bertanya apakah sudah menggambar hanok? Beberapa teman mengatakan “sudah” namun dengan tambahan penjelasan, ”Sebisanya. Entah benar atau tidak.”

Ya, memang. Mereka menggambar sesuai dengan persepsi masing-masing. Ada yang menggambar baju tradisional korea (hanbok), ada yang menggambar benda yang sesuai dengan persepsinya, ada yang tidak menggambar apa-apa karena bingung apa itu hanok. Saat itu, saya belum membahas kegiatan tersebut. Saya ajak mereka menggambar lagi.  

Kali ini, saya meminta mereka untuk menggambar rumah. Tanpa banyak komentar, mereka langsung menggambar rumah. Tak sampai satu menit semua bisa mulai menggambar rumah. Ketika saya bertanya mengapa saat menggambar rumah mereka bisa langsung menggambar, mereka mengatakan:

“Sudah sering lihat.”

“Kita sudah tahu rumah itu seperti apa.”

“Rumah, tempat tinggal kita sehari-hari.”

Saat itu, saya mengajak teman-teman saya untuk berada pada posisi sebagai murid atau anak. Berbicara proses belajar mengajar, keadaan ini sama dengan murid-murid. Ketika mereka diminta untuk menggambar tanpa ada wawasan di kepala, bisa jadi mereka mengalami kesulitan menuangkannya. Sering juga kita meminta mereka menggambar tanpa memberi wawasan terlebih dahulu sehingga mereka tidak tahu bagaimana memulainya. Atau kita meminta murid-murid meniru apa yang sudah kita buat. Cara lain mungkin kita memberitahu bagaimana cara melakukannya.

Mengapa ketika menggambar hanok, prosesnya tidak secepat menggambar rumah? Atau ada yang bisa menggambar tapi salah, bahkan ada yang tidak menggambar apa-apa karena bingung apa yang digambar. Karena di kepala teman-teman saya saat itu, belum ada wawasan/pengetahuan tentang hanok. Ada yang menggambar pakaian karena ia sangka hanok adalah pakaian tradisional korea karena kemiripan bunyi antara ‘hanok’ dan ‘hanbok’. Ketika kita tidak mengetahui dengan pasti, kita cenderung untuk melakukan sesuatu sesuai dengan persepsi masing-masing.

Tentunya, dalam proses pembelajaran, hal ini diharapkan tidak terjadi. Saya ingin murid-murid saya memiliki wawasan yang banyak sebelum mereka berkarya. Entah itu menggambar atau membuat cerita, ataupun berkarya dalam bentuk lainnya. Intinya, proses membuka wawasan atau membangun pengetahuan (proses ‘baca’) harus dilakukan dalam proses pembelajaran sebelum proses penuangan ide (proses ‘tulis’) dilakukan.

Lalu bagaimana caranya menambah wawasan anak agar mereka dapat tidak kesulitan dalam menuangkan idenya?

  1. Jangan meminta anak melakukan sesuatu tanpa memberikan wawasan terlebih dahulu sebagai proses baca. Memberikan wawasan atau membangun pengetahuan di benak murid bukan berarti kita memberi semua yang kita tahu terkait topik yang sedang dibicarakan. Kita bisa saja memberikan kesempatan pada siswa untuk mencari tahu sendiri. Kita ajak mereka mendapatkan data-datanya sebelum mulai menggambar atau mengarang cerita. Studi literatur, membaca, bertanya, mengamati, menonton video, mengamati foto-foto, merupakan contoh-contoh proses membangun pengetahuan. Hindari mencontohkan gambar lalu ditiru oleh anak. Percayalah, anak-anak memiliki keunikan dalam menuangkan ide. Di situlah kekayaan ide akan terlihat dari kelas kita.  
  2. Proses tulis baru bisa dilakukan ketika anak sudah memiliki wawasan atau pengetahuan. Ketika masih ada murid yang belum bisa menuangkan ide, refleksikan. Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah saya sebagai guru sudah melakukan proses membuka wawasan murid-murid? Apakah proses membuka wawasan ini sudah cukup? Bagian mana yang perlu saya perbaiki dalam proses pembelajaran?”
  3. Setiap murid adalah unik. Mereka memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ketika ada murid yang cepat menuangkan ide, tentu ada juga yang lama dalam menuangkan ide. Kenali kesulitannya. Apakah murid tersebut memiliki kesulitan dengan motorik halus, atau dalam membangun pengetahuan di kepalanya.
  4. Pada tingkat pendidikan dasar (Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar kelas bawah) perbedaan kemampuan murid biasanya sangat kentara antara satu anak dengan anak lain. Kenali kemampuan murid, hindari memaksakan harapan atau kemampuan kita sebagai orang dewasa kepada murid yang kemampuannya masih berkembang.

Semoga bermanfaat. (Iin)