Foto: dok. pribadi

Cerita tentang Perpustakaan di Masa Pandemi

Oleh: Ika Irawati

Maret 2020. Dunia mendadak berhenti. Setidaknya di Indonesia. Walau berhenti adalah kata yang tidak tepat untuk menggambarkannya. Dunia pada tahun 2020, ya, semua tahu apa yang terjadi. Bencana global. Pandemi Covid 19. Tak ada yang luput. Pun Indonesia. Demikian juga Kota Bandung.

Stay at home berkumandang. Cara inilah yang bisa dilakukan saat ini untuk menghentikan penyebaran virus yang belum ada penangkalnya.

Maret 2020, diputuskan bahwa seluruh siswa tidak bisa belajar di sekolah lagi. Tak ada lagi guru di sekolah. Semua 'dirumahkan'. Sementara untuk 14 hari.

Empat belas hari menjadi 1 bulan. Satu bulan sampai satu tahun ajaran 2019-2020 berakhir. Nyatanya awal tahun ajaran 2020-2021 pun masih #dirumahaja. Belajar di Rumah berlalu sudah selama 1 semester. Situasi tak juga membaik.

Putar otak. Bagaimana agar edukasi tidak mandek? Bagaimana caranya agar kita tidak kehilangan generasi ini? Bagaimana supaya sekolah tetap hidup? Bagaimana mempertahankan Sumber Daya Manusia yang bernaung di dalamnya?

Putar otak bukan baru dilakukan ketika tahun 2020 berakhir. Putar otak 'terpaksa' dilakukan sejak awal pandemi. Berbagai skenario disiapkan, dari yang paling optimis hingga yang paling 'amit-amit jangan sampai kejadian'. We always prepare for the worst. Kami selalu menyiapkan skenario terburuk. Mungkin seri buku Diari Si Bocah Tengil dengan judul ‘Kenyataan Pahit’ bisa menjadi satu judul besar buku kehidupan manusia pada kisaran tahun ini.

Kenyataan pahit munculnya SARS Cov-2 di dunia yang belum bisa diatasi ini bukannya tak dibarengi dengan kenyataan manis. Oh ya, tentu saja masih ada kenyataan manis, bukankah Tuhan Maha Pengasih?

Kenyataan manis bahwa abad ini teknologi sudah berkembang. Kenyataan manis bahwa sebagian besar manusia sudah memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi. Kenyataan manis hadirnya teknologi internet yang telah mengoneksikan hampir seluruh umat manusia di dunia ini. Kenyataan manis bahwa sebagian besar kita adalah pengguna internet.

Nah, lalu bagaimana nasib perpustakaan yang berada di dalam sekolah? Jantungnya sekolah ini otomatis menghadapi situasi genting. Guru dan siswa sama-sama memiliki keterbatasan untuk menikmati suasana perpustakaan dan juga buku secara fisik.

Berhenti berdetak tentu tidak menjadi opsi bagi perpustakaan. Perpustakaan harus terus berdenyut. Perpustakaan jantung sekolah. Kalau perpustakaan berhenti, bagaimana nasib proses pendidikan di sekolah? Tak mungkin kita menyerah kalah dan memupuskan semua upaya mendidik generasi literat begitu pun semua kerja keras guru dalam menghadirkan buku rekomendasi untuk siswa.

Terima kasih pada teknologi. Karenanya, perpustakaan bisa mencari banyak referensi dari ahli dan berbagai sumber yang memiliki kapabilitas terpercaya, bahkan dari belahan dunia yang tak pernah dikunjungi sebelumnya.

Kekhawatiran bahwa buku fisik akan menjadi media aktif penyebar virus ini, dengan relatif cepat bisa disingkirkan. Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa resiko tersebut sangat minim, dengan protokol yang tepat dalam memperlakukan buku tersebut.

Awal tahun ajaran, tim perpustakaan yang didukung pula dengan tim admin sekolah, mulai bekerja keras menyiapkan paket buku. Buku rekomendasi tetap bisa hadir untuk tiap siswa untuk bahan bacaan.

Program ini juga menjadi kesempatan yang membahagiakan pustakawan karena bisa mengenalkan beragam genre bacaan kepada siswa. Akhirnya, cita-cita pustakawan bahwa setiap siswa bisa meminjam lebih dari 20 buku dalam 1 semester bisa terwujud. Meskipun mungkin ada sedikit unsur pemaksaan dengan adanya paket buku di mana siswa tidak bisa memilih buku seperti dulu.

Akhirnya, paket buku menjadi pekerjaan rutin. Kehadiran buku fisik di rumah murid sebulan sekali apakah cukup? Lalu, bagaimana dengan ikatan batin antara siswa dengan perpustakaan? Saat ini, mereka kehilangan momen beraktivitas di perpustakaan. Mereka kehilangan momen menikmati suasana perpustakaan. Biasanya, mereka memiliki jadwal berkunjung ke perpustakaan secara rutin. Biasanya mereka menempati ruang favorit di bawah tangga dan saling bercerita dengan temannya. Pandemi membuat banyaknya ‘kebiasaan’ mereka di perpustakaan menjadi hilang.  

Ah, ya... Tentu ini tak bisa dibiarkan berlarut lama. Tidak mungkin perpustakaan diam saja mengingat cahaya terang di ujung terowongan panjang pandemi ini masih juga belum terlihat. Yap! Mari kita hadir secara virtual, masuk ke kelas-kelas mereka! Akhirnya ide itu muncul.

Tengah semester tahun ajaran 2020-2021, akhirnya kunjungan kelas virtual ini bisa dilaksanakan. Kami menyebutnya ‘Kelas Elmuloka’. Kelas yang hadir singkat saja setiap bulan. Kelas yang hanya menuntut setiap murid memiliki memori positif tentang perpustakaan. Bahwa setiap dari mereka pasti rindu datang ke perpustakaan, terlepas dari preferensi pribadi mereka terhadap buku.

Tidak hanya berupaya hadir di rumah-rumah siswa, perpustakaan juga mengupayakan kehadirannya di rumah-rumah masyarakat umum.

Layanan pinjam antar dipasarkan, dengan harapan bisa mengakomodir kebutuhan anggota umum akan bahan bacaan fisik. Daftar buku dan memilih paket dilakukan secara online, lalu paket buku pinjaman akan dikirim ke rumah-rumah.

Kegiatan kreatif bersama murid juga mulai diciptakan dengan kehadiran ‘Klab MaCa’, Klab Main dan Baca. Ya, tentu saja secara online, dan tentu saja mengambil inspirasi dari buku. Semua agar makin tumbuh kesadaran bahwa dari buku, banyak hal bisa dilakukan dan diciptakan.

Pandemi Covid 19 sepanjang tahun 2020, dan tampaknya masih akan ekstensi hingga tahun 2021, memang sesuatu yang membuat kita mengumpat. Tapi layaknya sebuah koin, segala hal dalam hidup pun memiliki 2 sisi. Sisi baik dari pandemi ini adalah lahirnya daya kreatif setiap individu manusia untuk bangkit berjuang. Bahwa hidup harus terus berjalan meski rintangan datang menghadang.**

**Ika Irawati adalah pustakawan Elmuloka, sebuah perpustakaan umum di Jalan Malabar 61 Bandung.