Oleh : Rahmat Suprihat, S.Pd

 

Sebuah pengalaman yang sangat inspiratif..

Saya berbincang dengan seseorang yang sangat memiliki selera komunikasi yang tinggi..

Berawal dari pertemanan di medsos FB sampai bisa bersilaturahmi di darat dalam beberapa kali moment termasuk moment " Ngaliwet ".

 

Namanya Pa Adi Raksanagara, saya biasa memanggilnya Ua ( dengan sapaan wawakuh ) atau pakai sapaan lain Wa Goodbener.

Beliau adalah seorang jurnalis juga seorang Pandu/Pramuka yang banyak melalui berbagai cerita keren.

Disini saya hanya ingin menyampaikan kembali tulisan beliau..

 

Beliau memgawali ceritanya tentang mengingat Kode Kehormatan Pramuka Sepanjang Masa

Suatu hari saya mendengar cerita dari salah satu kedinasan di lingkungan Pemerintahan Kota Bandung seperti ini. Saat itu dinas tersebut harus memilih dan menentukan Kepala Dinas baru yang memang secara periodik harus diganti. Yang menggelitik pikiran saya saat itu bukan persyaratan seorang calon kadis yang resmi diundangkan, tapi ucapan Sang Kadis yang akan segera menuntaskan masa jabatannya itu. Konon, dia bilang, calon kadis yang baru sebaiknya seseorang yang pernah aktif di Pramuka.

 

Boleh jadi, ucapan Sang Kadis itu bikin miley para balon kadis ambisius yang tidak pernah berkegiatan di kepramukaan. Timbul pertanyaan, kenapa Sang Kadis berkata seperti itu? Memang, secara pribadi saya kenal dia dulu sebagai aktivis kepramukaan Kota Bandung.

Dia juga terpilih sebagai wakil Jawa Barat ke Paskibraka Nasional di Istana Negara. Wajar sekali ucapannya.

Kenapa kepramukaan disangkut-pautkan dengan “syarat” kepemimpinan di lingkungan pemerintahan?

Dari semua atikan yang disampaikan dalam kepramukaan memang inspirasinya dari Be Prepared Baden Powell, Bapak Pandu Dunia, lahirlah Kode Kehormatan Pramuka Indonesia mulai dari Dwi Satya, Dwi Darma, Tri Satya, Dasa Darma.

Rangkaian Kode Kehormatan inilah yang membentuk bangunan karakter seseorang.

 

Sejak tingkatan Siaga, kita dikenalkan dengan atikan paling dasar dalam darma-darma kehidupan manusia sepanjang usia yang dengan mudah dihafal serta dihayati:  “Siaga itu patuh pada ayah dan ibundanya. Siaga itu berani dan tidak putus asa.”

 

Dan terbukti di sepanjang jaman bahwa penyelamat lahir batin kita adalah restu dan doa orang tua. Dalam hidup ini kita akan senantiasa menghadapi tantangan. Bisa menang bisa juga kalah. Bila berhasil jangan lupa bersyukur atas adanya restu dan doa orang tua, bila gagal jangan putus asa karena selalu ada bimbingan ayah bunda. Bekal Kode Kehormatan inilah yang kelak menapaki jenjang darma-darma kehidupan yang bertumbuh dan berkembang seiring usia. Dan ini berlangsung sepanjang masa, karena Pramuka tidak mengenal “purna.”

Kembali mengenang ucapan Sang Kadis itu, memang benar adanya karena Pramuka itu dijejaki bukan lantaran cita-cita, tapi panggilan jiwa.

 

Apapun capaian dalam kehidupan seseorang akan memiliki nilai tambah dengan pembekalan atikan dari kepramukaan. Seperti apa kata Baden Powel, Scouting itu merupakan latihan pengembangan fisik, mental dan spiritual sejak muda, hingga pada akhirnya terbentuk manusia berkarakter Be Prerpared!

Kita kenang Scouts Founders Day, Lord Robert Baden-Powell Of Gilwell, 22 Februari.

Terima kasih Wawakuh terbaik..di usia yang sudah tidak muda lagi namun saya tidak menemukan titik kurva semangat itu tergambar dibagian bawah..selalu Mangprang..

Sehat selalu wawakuh terbaik.

" Respect "