Oleh: Yudhi Kurnia, S.T.,Gr

Guru SMP Muhammadiyah 8 Bandung

Sudah lebih dari satu tahun pembelajaran sekolah dilaksanakan di rumah. Guru dan para peserta didik sama-sama melaksanakan kegiatan belajar mengajar di rumah masing-masing dengan mempergunakan perangkat komputer/laptop atau smartphone. Selain penggunaan perangkat tersebut, jaringan internet juga sangat diperlukan demi terlaksananya Pembelajaran Jarak Jauh atau isilah lain adalan Pembelajaran Daring (online).

 

Awal tahun 2020 hingga kini adalah masa terberat yang harus dilalui oleh seluruh umat manusia di dunia. Pandemi Covid-19 telah meluluhlantakkan aktivitas manusia. Bukan hanya itu, Covid-19 juga telah banyak menelan korban hingga jutaan jiwa. Sekolah merupakan satu lembaga yang mengalami dampak yang sangat dahsyat. Guru beserta siswa diwajibkan untuk beraktivitas di rumah masing-masing dan pembelajaran dilaksanakan secara daring (online) guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

 

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di rumah yang dikenal dengan istilah Belajar Dari Rumah (BDR) telah membangun satu aktivitas baru. Guru beserta siswa menjadi lebih intens menggunakan perangkat komputer atau smartphone yang terkoneksi ke internet. Dulu, sebelum kewajiban BDR dilaksanakan, penggunaan smartphone yang terhubung internet sering dibatasi. Para siswa di sekolah bahkan sangat jarang sekali menggunakan perangkat tersebut untuk pembelajaran. Bahkan, beberapa sekolah ada yang menerapkan aturan pelarangan membawa perangkat smartphone tanpa seizin dari guru atau sekolah. Kondisi penggunaan gadget atau smartphone di masa pandemi sangat berbeda jauh dengan masa sebelum pandemi. Inilah yang menyebabkan hadirnya kebiasaan baru yang dilakukan oleh manusia di bidang pendidikan yakni, lebih banyak menggunakan perangkat seperti laptop dan juga smartphone.

 

Seiring berjalan waktu, kondisi pembelajaran di rumah yang dilakukan selama hampir lebih dari satu tahun membuat berbagai kalangan khawatir. Salah satunya adalah kekhawatiran akan munculnya kondisi learning loss. Learning loss adalah kondisi di mana para peserta didik kehilangan minat belajar pada pelajar, karena berkurangnya intensitas interaksi dengan guru saat proses pembelajaran. Efek dari adanya learning loss ini saya merasakan sendiri. Pada saat pembelajaran dengan tatap muka maya dengan menggunakan aplikasi seperti Zoom Meeting atau Google Meet misalnya, tidak sedikit siswa yang tidak bisa menghadiri kegiatan tatap muka secara maya. Hanya sebagian kecil pelajar saja yang masih bertahan dan aktif mengikuti kegiatan pembelajaran secara daring. Beberapa dari sebagian kecil tersebut juga tidak semuanya disiplin tepat waktu dalam mengumpulkan berbagai macam tugas yang diberikan.

 

Apakah telah terjadi kebosanan dalam pembelajaran daring sehingga peserta didik tidak merasakan semangat lagi belajar? Hal tersebut sepertinya bisa saja terjadi dan akan terus meningkat dari waktu ke waktu. Hingga saat ini, telah banyak kajian dalam rangka penanggulangan permasalahan tersebut. Para pakar bisa jadi sedang mengolah data yang nantinya akan menjadi bahan evaluasi di masa yang akan datang. Sambil menunggu kebijakan dan hasil kajian para ahli, saya sebagai guru yang terlibat dalam aktivitas pembelajaran daring di mana saya juga mengalami keadaan sebagian siswa menjadi bosan, tengah berusaha mencari jalan mengurangi kebosanan siswa dalam pembelajaran daring ini. Meski belum diuji keabsahan bahwa siswa memang betul merasakan kebosanan tingkat tinggi dalam melaksanakan BDR ini, namun, sebagai guru saya merasakan hal itu sudah terjadi. Sebagai contoh, dari satu kelas dengan jumlah peserta didik 30 orang misalnya, pada setiap kegiatan tatap maya atau meeting online kehadiran siswa tidak melebihi dari 50 persen peserta didik. Jumlah tersebut akan terus merosot lagi saat berkaitan dengan tugas-tugas yang wajib dikerjakan. Perlu upaya nyata untuk bisa mengembalikan atau minimal membangkitkan semangat belajar peserta didik di tengah gencarnya misi merdeka belajar yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

 

Melihat kenyataan tersebut, guru harus betul-betul berupaya melakukan inovasi dalam pembelajaran agar tidak membosankan. Guru wajib berusaha melahirkan karya-karya dalam bentuk media pembelajaran atau metode dalam menjelaskan sebuah materi agar menarik. Tak sedikit guru-guru yang telah memulai dengan memproduksi karya video pembelajaran secara mandiri. Isi dari video adalah hasil karya guru sendiri sehingga konten atau isi video akan sangat relevan dengan tujuan yang akan disampaikan oleh guru yang bersangkutan. Video yang dibuat oleh guru secara mandiri tanpa mengambil dari bahan lain di internet seperti di YouTube misalnya akan lebih berkesan dan membangun kedekatan dengan para peserta didik. Akan tetapi, tidak semua guru mampu untuk membuat atau memproduksi video pembelajaran yang berkualitas baik dari sisi suara, kualitas gambar ataupun ketepatan dalam materi yang disampaikan. Ada berbagai cara yang bisa ditempuh, misalnya guru-guru bisa memanfaatkan Kelompok Kerja Guru (KKG) untuk tingkat SD atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk tingkat SMP atau SMA. Guru-guru yang tergabung bisa saling membantu untuk menghasilkan karya video dengan cara membangun tim pembuatan konten pembelajaran inovatif.

 

Tentunya dengan mengaktifkan KKG atau MGMP dalam membuat konten pembelajaran bisa membantu para guru-guru yang kesulitan dalam membuat video yang bagus. Video yang dibuat secara bersama dikelola dan diolah oleh tim dalam KKG atau MGMP tersebut. Berbagi tugas dan tanggung jawab sesuai dengan keahlian yang dimiliki para anggota tentunya akan meringankan beban guru-guru yang tidak mampu untuk membuat video secara mandiri.

 

Selain video pembelajaran, pembuatan aplikasi pembelajaran yang menarik dengan basis android misalnya akan bisa membantu pembelajaran siswa yang menggunakan smartphone. Materi ajar ataupun latihan-latihan soal dan tugas bisa diakses melalui aplikasi dan terjadi interaksi antara siswa dengan sistem, yang sebelumnya sudah diatur sedemikian rupa.

 

Semua media baik video atau aplikasi khusus tentunya akan sangat mudah diakses oleh siswa yang mempunyai kemampuan dalam penyedia alat berupa smartphone atau laptop dan juga jaringan. Namun, untuk siswa yang belum memiliki perangkat yang dibutuhkan, bagaimana agar akses terhadap materi yang dibuat oleh guru atau MGMP tersebut juga bisa mereka peroleh?

 

Saat ini tidak sedikit sekolah yang membolehkan siswanya mengambil bahan materi ajar yang akan dipelajari dengan cara siswa mendatangi sekolah dan mengambil bahan tersebut. Jika hal ini terjadi, maka konversi materi menjadi bentuk file yang bisa di transfer ke CD atau flashdisk menjadi keharusan. Para siswa yang tidak mampu mengakses internet dengan baik, bisa memanfaatkan file dalam CD atau flashdisk untuk bisa dibuka dipelajari di rumah dengan menggunakan perangkat televisi dan CD player misalnya.

 

Selain penyediaan bahan ajar yang menarik melalui pembuatan media pembelajaran berupa video ataupun aplikasi tersebut di atas, seorang guru juga harus mampu mengelola kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan melalui Zoom Meeting atau Google Meet agar senantiasa menarik dan tidak membuat jenuh. Sebelum kegiatan tatap maya melalui aplikasi tersebut, guru harus sudah menyiapkan segala bahan yang akan disampaikan. Jangan sampai saat kegiatan berlangsung terdapat kendala-kendala terutama terkait materi yang disampaikan. Bukan hanya itu, persiapan teknis pun wajib dilakukan dengan baik. Kondisi perangkat yang prima dan juga jaringan yang stabil sangat berpengaruh besar terhadap keberlangsungan KBM yang dilaksanakan.

 

Maka dari itu, menjadi hal yang sangat penting apakah pembelajaran itu bisa menarik atau tidak, apakah siswa konsentrasi atau tidak, hal itu bermula dari persiapan yang guru lakukan. Semakin baik persiapan yang dilakukan, maka kegiatan pun akan semakin baik. Jika sebaliknya, maka jangan heran kalau siswa kita banyak yang tidak aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Persiapan itu penting dan sangat dibutuhkan. Selamat berikhlas dalam berkarya untuk rekan-rekan guru semua.